Kehidupan pemuda pada suatu waktu

Waktu menunjukan pukul 13.45 pemuda ini mulai bergegas berangkat kekampus untuk bersiap menemui dosen pembimbing. Melihat motornya yang kotor nampak tidak menarik dipandang dan tak habis pikir beberapa hari yang lalu baru saja dicuci. Selanjutnya pemuda ini mulai menjalankan stater motornya berasa lebih halus setelah ganti oli yang lama engga ia ganti, begitu keluar pintu gerbang disuguhi kemacetan dan ini adalah hal biasa baginya. Selama perjalanannya pikiranya tidak diam melihat sepanjang jalan dipenuhi dengan penjual yang aga menghalangi jalan raya. terlintas dipikiran mengapa kota ini tidak tertata dengan baik dan berantakan. Motor terus melaju pada kecepatan 40 km/jam persis didepannya angkot memotong jalan dan begitu cekatan menginjak rem tanpa melihat kiri kanan dan belakang yang supir lihat ohhh ada penumpang, Maka ia harus dengan cepat karena penumpah adalah raja, tanpa berfikir panjang apa yang bakal terkadi jika hal ini terus menerus dilakukan. Ia hanya berfikir hari ini dan esok saya harus mendapatkan uang sebanyak mungkin sehingga ia bisa setoran kebosnya. Uang dari bosnya ia sisihkan untuk keperluan keluarga sisanya bisa saya tabung untuk anak sekolah.

Mulai masuk keparkiran motor bertebaran bagaikan semut serbu gula. Semua ingin mendapatkan tempat untuk motornya sehingga harus dengan sabar untuk mencarinya karena ia tau betul resiko kekampus siang. Setelah motornya terparkir dengan baik ia harus cepat untuk menemui dosen sebelum bu dosennya pulang kerumah.

Tiba didepan ruang dosen tengok kiri-kanan tampak dosennya sedang sibuk. Sambil menunggu ia melamun dan liat kiri-kanan tampak sepi. Tengok lagi meja dosen ohh ada lagi santai… Pemuda ini melirik kekanan siapa yang datang dari luar menuju ruang dosen. Ohh ternyata “dia” sebut pemuda ini yang tak kenal namanya. Sambil menunggu waktu yang tepat untuk masuk ruang dosen pemuda ini sering melihat wanita ini tapi tak pernah ia kenal namanya. Sebut saja namanya Inem. Inem datang lihat kanan-kiri diruang dosen dan inem berdiri disebelah pemuda itu yang memiliki tujuan sama ya bimbingan.

Waktu berlalu pemuda ini baru ingat temannya belum juga datang yang janjinya pukul 14.00 mau bimbingan bareng, segera SMS dengan cepat, singkat, padat dan jelas. Dimana? Bls temannya sedang dijalan menuju kekampus. Pukul 14. 20 temannya belum juga datang… ditunggu belum juga datang… ia mulai cemas.

Inem tampak santai menunggu, Dengan nada berani dan cuek akhirnya pemuda ini menyapanya lebih dulu dengan menduga-duga “mau bimbingan?” ya blah blah blah… Percakapannya cukup lama dan sungguh pemuda ini tidak banyak memerhatikan yang inem katakan justru pemuda ini melihat wajahnya sambil berfikir kamu manis semanis kopiku setiap malam. Pemuda ini melihat wajahnya bahwa kedamaian ada dimatanya. Tetapi inem terus bicara padanya dengan nada yang cepat. Tak lama pria ini sadar dia ia mulai memerhatikan yang inem ucapkan.

Pemuda ini tau menunggu temannya dapat membuatnya kehilangan bimbingan akhirnya ia memutuskan masuk ruang dosen tanpa menunggu temannya, sejalan dengan ini inem pamit pulang.