Diri kita sekarang tidaklah buruk

Terkadang kita suka mengeluh pada diri sendiri mengapa saya selalu terlambat, mengapa saya temperamen, Mengapa saya selalu mendapat nilai buruk walau sebenarnya kita mampu menyelsaikannya dengan baik, Hanya masalah waktu dan tergesah-gesah. Yah.. yah.. saya paham itu?

Baru saja saya mendapat khutbah jumat yang isinya jikalau kita selalu mengeluh hal-hal apa dari kekurangan kita maka kita tidak akan pernah bisa mencapai keberhasilan yang ingin kita capai. Karena mindset-nya terisi dengan kekurangan-kekurangan yang ada pada kita. Yang intinya kita kurang bersyukur dan ?menikmati? apa yang kita miliki. Kalau kita bisa ?menikmati? apa yang kita miliki dan menerima kekurangan yang kita miliki tentu hidup terasa nikmat dan berkah. Sempat juga disinggung pada khutbah jumat, bahwa orang pintar itu yang memiliki IPK 4.0 / IPK yang cumloud atau diatas rata-rata tetapi jika Allah tidak menghendaki ia berhasil maka sampai kapanpun tidak pernah berhasil meraih sesuatu hal yang ingin dicapai. Karena orang pintar terkadang terlalu bangga dengan kepintaran yang dimilikinya dan melupakan rasa syukurnya. Bersyukurlah menjadi orang ?bodoh? sesungguhnya Allah menciptakan manusia yang sempurna. Mungkin jika dikasih kepintaran yang lebih kita akan lupa, kita akan sombong, kita akan merasa lebih pintar dan paling pintar, kita merasa paling hebat, kita merasa paling pantas untuk diagung-angungkan. Bersyukurlah menjadi orang yang ?bodoh?, karena orang yang bodoh tidaklah bodoh (seharusnya) karena orang bodoh selalu ingin belajar? belajar? belajar.. dan belajar? semakin sering belajar semakin banyak yang kita tidak tau, semakin banyak tau semakin banyak pula yang kita tidak tau.

Kembali ketopik di paragraf pertama, mengapa kita tidak pernah berhasil dalam meraih sesuatu hal? Kita selalu gagal dan gagal? dan orang pintar selalu berhasil dan berhasil?, kapan kita bisa berhasil meraih sesuatu hal yang ingin kita capai? Coba kita tengok kebelakang apakah pernah berkata ?saya berhasil meraih sesuatu dan kita mengingatnya?? Ehmm?. Lebih sering kita melupakannya dan yang teringat hanyalah gagal?gagal…gagal dan gagal. Tidak sepenuhnya diri kita disalahkan akibat dan mengapa selalu gagal. Lalu harus siapa yang disalahkan? Tak perlu menyalahkan siapapun. Karena banyak faktor-faktor masalalu yang hingga sekarang masih melekat dalam memori otak. Faktor keluarga, lingkungan, teman dan sekolah itu merupakan factor pengalaman yang sangat berharga. Apakah lingkungan kita penuh dengan kekerasan? Keluarga kita penuh dengan kekerasan? Teman kita selalu kasar etc.. etc.. dari situlah kita merekam dalam memori dan menyimpan dalam berkas-berkas masing-masing dari pengalaman masalalu. Menurut Dr. Ibrahim Elfiky setiap pengalaman masalalu sangatlah berpengaruh pada diri kita sekarang, karena dalam memori kita tersimpan berupa berkas-berkas atau folder-folder setiap kategori seperti ekspresi berkas marah, berkas benci, berkas tidak suka, berkas gagal, berkas berhasil, berkas fokus, berkas lupa, berkas terlambat,  dan banyak lagi. Ketika kita marah maka kita akan membuka berkas-berkas kita ekspresi marah, ketika kita gagal maka akan membuka berkas-berkas gagal. Semua itu terekap dalam folder-folder terorganisir dengan baik dari pengalaman masalalu. Masalalu di dapat dari kehidupan kita sehari-hari dan berulang-ulang hingga melekat menjadi folder yang terpisah. Layaknya sebuah komputer folder-folder dan berkas-berkas tersebut bisa dihapus dan diganti dengan berkas yang baru jika kita mau dengan izin Allah.

Jikalau punya anak berilah pendidikan, Agama dan Akhlak yang baik dan berikan contoh yang baik. Dibalik keberhasilan anak adalah keberhasilan orang tua dalam mendidik. 🙂